https://beritagar.id/artikel/bincang/wawancara-ilham-aidit-anak-kecil-juga-bisa-minta-maaf
Wawancara Ilham Aidit: Anak kecil juga bisa minta maaf
Ilham Aidit berencana mengajak para korban pelanggaran HAM berat tahun 1965 memberi maaf kepada negara.Dilema merundung Ilham Aidit ketika hendak menyunting sang calon istri: Membuka atau menyembunyikan identitasnya.
Yang bikin dia ciut, calon mertua seorang jenderal Angkatan Darat, yang aktif menumpas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tapi pilihan membuka rahasia itu yang diambilnya. Dia nekat menceritakan siapa dirinya--dengan didampingi sang calon istri. "Pak Umar (nama calon mertuanya), tahu PKI kan?" tanya Ilham. "Oh jelas, kenapa?" jawabnya. "Saya adalah anak dari Aidit!," kata Ilham.
Sang calon mertua pun pingsan. Ilham panik dan langsung mengipas-ngipasi si calon mertuanya itu memakai kertas, dengan wajah takut yang belum reda sepenuhnya. Dua menit berselang, si calon mertua siuman dan mengacuhkannya begitu saja.
"Kami memang menikah, tapi tanpa restu," kata Ilham, yang baru bicara dengan mertuanya itu setelah pernikahannya berusia 10 tahun. "Pasca reformasi baru kami bisa ngobrol kembali," ujarnya, lantas tertawa.
Masa lalu Ilham memang kelabu. Saat tragedi kemanusiaan 1965 terjadi ia baru berusia 6,5 tahun, dan harus kabur dari satu rumah ke rumah lain, karena diuber tentara. Dua kakak perempuannya bahkan lari dan menetap di Prancis.
Kini, era berganti, dan Ilham mulai melihat secercah harapan. Pasalnya, Pemerintahan Presiden Joko Widodo berniat mengungkap tabir gelap di balik serentetan tragedi kemanusian yang terjadi sejak republik ini berdiri.
Untuk pertama kalinya, sejak tragedi 1965, sebuah simposium tingkat nasional digelar untuk membicarakan luka yang tak pernah dibuka selama 50 tahun pada 18-19 April, pekan lalu di Jakarta. Tajuknya "Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan".
Bersama keluarga korban lainnya Ilham menyambut baik. Pasalnya mereka punya kegelisahan yang sama: sejarah gelap 1965 harus diluruskan demi rekonsiliasi. "Pertama kalinya forum seperti ini digelar pemerintah," katanya.
Jumat lalu (22/4/2016), Ilham menerima Fajar WH dan Heru Triyono, serta fotografer Jefri Aries dari Beritagar.id--di salah satu kedai kopi di Kompleks Bioskop Megaria, Menteng, Jakarta.
Dalam wawancara selama satu jam ia memaparkan masa lalu, harapannya pasca simposium nasional dan rencananya memberi maaf kepada negara. "Akan kami coba cara itu," kata Ilham, memakai kemeja abu-abu polos dengan kaos hitam sebagai dalaman. Berikut petikannya:
Putra bungsu ketua Central Committee PKI DN Aidit, Ilham Aidit, ketika diwawancara Beritagar.id di salah satu kedai kopi di Komplek Bioskop Megaria, Menteng, Jakarta, Jumat sore (22/4/2016).
Putra bungsu ketua Central Committee PKI DN Aidit, Ilham Aidit, ketika diwawancara Beritagar.id di salah satu kedai kopi di Komplek Bioskop Megaria, Menteng, Jakarta, Jumat sore (22/4/2016).
Saturday, August 27, 2016
Tuesday, August 9, 2016
NUMONI
https://www.techinasia.com/numoni-series-b-funding
Singapore’s Numoni raises $4.7M to bring
digital payments to unbanked
Singapore-based digital payments company Numoni has raised S$6.6 million (US$4.76 million) in a series B round. Singaporean investment firm OWW Capital Partners and notable local business figure Robert Yap, along with several private funds, participated in the round. Robert Yap also sits on the board of Numoni.
Numoni was founded in 2012 to
enable cashless payment methods for unbanked populations. Its prime offering is
Nugen, an ATM-like terminal that allows the user to remit money abroad, pay
bills, receive funds, top up phone airtime, and more. Since 2012, Numoni has
expanded from Singapore to Malaysia, Indonesia, the Philippines, and Hong Kong.
In October 2014, it acquired a controlling stake in Maxbank, a thrift bank in
the Philippines.
Numoni
previously raised two funding rounds. For those, the company counted primarily
on friends and family to participate, Numoni CEO Norma Sit tells Tech
in Asia, although government
investment firm SPRING Seeds Capital was also a part of the series A. This
time is different, as not only was the company able to close its series B round
much quicker, but the participation of outside parties is a validation for what
it’s trying to do, Sit says. “It gives that vote of confidence to management
and to previous investors, that yes, this is something that is real.”
OWW began in Singapore as OCBC, Wearnes
& Walden Management, a firm established by OCBC Bank, investment company
Walden International, and former United Engineers subsidiary WBL Corporation.
OCBC and WBL divested from the firm, which now invests in companies operating
in IT, logistics, education or training, healthcare, financial services, and consumer
services.
Robert Yap is the former CEO for
East Asia for global port corporation PSA International. He is a council member
for Singapore at the ASEAN Business Advisory Council, and executive director
for Singapore-based supply chain solutions provider Y3 Technologies.
See: Payments startups innovate where banks and telcos never
will
Where the series A enabled the company to bring its Nugen terminals to market, and the series A+ helped it to invest in Maxbank, Numoni is concentrating on hiring and market penetration with this latest round. “[The] series B [investment] enables us to build teams and to expand in these markets with a lot more firepower behind us,” Sit explains.
Where the series A enabled the company to bring its Nugen terminals to market, and the series A+ helped it to invest in Maxbank, Numoni is concentrating on hiring and market penetration with this latest round. “[The] series B [investment] enables us to build teams and to expand in these markets with a lot more firepower behind us,” Sit explains.
The investment also opens the door
for a potential initial public offering (IPO), according to Sit. “Access to
finance is a very important part of who we are, because the market is huge and
being able to navigate it is key.”
Fuel for expansion
Although Sit wouldn’t release
numbers on revenue or usage, she feels Numoni has made significant inroads in
the markets it is active in, which now gives it the chance to strengthen its
already strong team. “They all have tremendous experience in transaction processing,
financial services, payments, remittances, e-wallets, and digital banking
services,” she explains.
Numoni has so far kept development
in Singapore, but as it bolsters its presence in other markets, it will spread
around some of its development resources in Malaysia and the Philippines. This
will bring down operating costs, but it’s also a by-product of the difficulty
of finding technical staff in Singapore, Sit explains.
This has been highlighted as a
problem in Singapore by Compass’ Startup Ecosystem Ranking 2015 report, and
Numoni has felt the challenge, especially when it comes to bringing in talent
from overseas.
Going forward, Numoni will also
consider further potential acquisitions, according to Sit. “Numoni’s business
is in three core areas: micro-payments, micro-remittances, and micro-loans,”
she says. “So these are areas we would be keen to look into. We believe we have
gone a little further as a company, and because of that, it would be good to
partner with some of the newer startup companies [in those areas].”
See: Fintech can be the unbanked’s best hope for financial
inclusion
As for potential new markets, Sit identifies Myanmar and Vietnam as two strong candidates that fit with Numoni’s offering. In fact, the company is already in talks with possible partners in Myanmar. However, all this is further down the line. “I think our hands are quite full [at the moment], because with 150 million unbanked in Indonesia, with about 12 million overseas workers from the Philippines, it’s already very challenging,” Sit says.
As for potential new markets, Sit identifies Myanmar and Vietnam as two strong candidates that fit with Numoni’s offering. In fact, the company is already in talks with possible partners in Myanmar. However, all this is further down the line. “I think our hands are quite full [at the moment], because with 150 million unbanked in Indonesia, with about 12 million overseas workers from the Philippines, it’s already very challenging,” Sit says.
Numoni finds itself in a field
that’s quickly populating with new startups as well as incumbents from large
financial institutions looking to innovate. For all of them, Southeast Asia’s
unbanked populations are a wide open opportunity.
http://www.numoni.com/contact-us/
Numoni - Singapore (Head
Office)
·
10 Ubi Crescent Ubi Techpark, #02-19 (Lobby
B) Singapore 408564
·
+65 6812 2888
Numoni - Malaysia (Kuala
Lumpur)
·
D-07-1, Plaza Kelana Jaya, Jalan SS7/13A, 47301
Petaling Jaya Selangor Darul Ehsan, Malaysia
·
+603 7872 9608
Numoni - Malaysia (Plant)
·
PLO 163, Jalan Cyber Utama Taman Perindustrian
Senai III 81400 Senai, Johar, Malaysia
·
+60 7598 1281
Numoni - Hong Kong
·
Room 803, 8/F Tower 2 Cheung Sha Wan Plaza 833
Cheung Sha Wan Road, Lai Chi Kok, Kowloon, Hong Kong
·
+852 3955 2000
Numoni - Philippines
·
81A 8th Floor NOL Tower, Commerce Avenue,
Madrigal Business Park, Alabang, Muntinlupa City, 1781, Metro Manila,
Philippines
·
+632 833 7563
Numoni - Indonesia
·
Jalan Warung Buncit Raya No 18, Duren Tiga,
Pancoran, Jakarta Selatan 12760 Indonesia
·
+62 21 4030 8080
KASUS LOGO
Pertamina Akan Gugat
Global Pacific Energy
JUM'AT,
02 NOVEMBER 2007 | 20:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT
Pertamina akan menempuh jalur hukum atas penggunaan logo Pertamina yang
digunakan oleh PT Global Pacific Energy untuk mengimpor 7.334 ribu tabung gas
elpiji dari Cina. Perusahaan milik negara itu merasa dijatuhkan citranya oleh
Global Pacific.
"Mereka tak boleh menggunakan logo kami," kata Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal ketika dihubungi di Jakarta kemarin. Ia memastikan berkas pengaduan hukum sudah disiapkan oleh tim legal Pertamina.
Ia pun menyatakan Pertamina tak ada sangkut pautnya dengan Global Pacific. Impor tabung dengan logo perusahaannya memperburuk citra Pertamina. "Kesan yang muncul, Pertamina yang mengimpor. Menteri yang berkata seperti itu."
Achmad tak bisa memastikan apakah Global Pacific pernah menjadi mitra Pertamina. Tapi Pertamina pasti membuka lelang jika akan mengimpor tabung.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mendesak lembaga penegak hukum menyelidiki impor tabung gas 3 kilogram itu lewat Pelabuhan Tanjung Priok. Ia menduga impor itu terkait dengan pembocoran informasi dari pengambil kebijakan. "Tak etis bila pejabat membocorkan informasi," katanya.
Menurut dia, pengiriman tabung butuh waktu waktu satu setengah bulan untuk sampai ke Indonesia. Pertamina pun baru mewacanakan impor tabung sejak akhir pekan lalu. Tapi tabung impor sudah masuk pelabuhan pada 27 Oktober lalu (Koran Tempo, 2 November).
Direktur Global Pacific Hendrik Luntungan sebelumnya menyatakan kepada Tempo bahwa impor tabung dilakukan sebagai spekulasi. Apalagi harga baja di Cina tahun depan diprediksi melonjak 13 persen. Ia juga mengaku tak ada andil dari Pertamina atau pabrikan tabung gas dalam proses impor.
Ketua Umum Asosiasi Industri Tabung Gas Tjiptadi menemukan kejanggalan pada tabung impor. Tabung itu tak dilengkapi kode perusahaan yang biasanya tertempel di badan tabung yang menunjukkan pemesan tabung impor. Pada tabung hanya tertera tulisan, "Diproduksi untuk pertamina LPG, Wc 7,3 ltr, TW 5,00 kg... TP31 kg/cm2, o prod 09-2007".
Menurut Tjiptadi, mestinya setelah tulisan "diproduksi untuk pertamina LPG" terdapat kode perusahaan dan nomor tabung. "Apabila disertai kode perusahaan, dapat dengan jelas diketahui siapa pemesan tabung gas impor ini," katanya di Jakarta kemarin.
Ia menjelaskan penempelan kode perusahaan bisa dilakukan oleh produsen tabung di pabrikan Indonesia. Jika memang produsen nasional yang memesan tabung itu, "Itu cara yang cerdik."
Tjiptadi menduga satu dari 12 produsen pemenang tender pengadaan tabung memesan kepada importir untuk memenuhi target kontrak dengan Pertamina. Dugaan lain, Pertamina yang memesan.
Soal harga tabung dari Cina tersebut, kata dia, sekitar US$ 6,1 per unit dengan bea masuk 15 persen. Bila dikonversi dalam rupiah, harganya plus bea masuk menjadi sekitar Rp 70 ribu. Adapun harga produksi di dalam negeri Rp 75 ribu tanpa valve.
"Harganya tak jauh dari produksi dalam negeri."
"Mereka tak boleh menggunakan logo kami," kata Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal ketika dihubungi di Jakarta kemarin. Ia memastikan berkas pengaduan hukum sudah disiapkan oleh tim legal Pertamina.
Ia pun menyatakan Pertamina tak ada sangkut pautnya dengan Global Pacific. Impor tabung dengan logo perusahaannya memperburuk citra Pertamina. "Kesan yang muncul, Pertamina yang mengimpor. Menteri yang berkata seperti itu."
Achmad tak bisa memastikan apakah Global Pacific pernah menjadi mitra Pertamina. Tapi Pertamina pasti membuka lelang jika akan mengimpor tabung.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mendesak lembaga penegak hukum menyelidiki impor tabung gas 3 kilogram itu lewat Pelabuhan Tanjung Priok. Ia menduga impor itu terkait dengan pembocoran informasi dari pengambil kebijakan. "Tak etis bila pejabat membocorkan informasi," katanya.
Menurut dia, pengiriman tabung butuh waktu waktu satu setengah bulan untuk sampai ke Indonesia. Pertamina pun baru mewacanakan impor tabung sejak akhir pekan lalu. Tapi tabung impor sudah masuk pelabuhan pada 27 Oktober lalu (Koran Tempo, 2 November).
Direktur Global Pacific Hendrik Luntungan sebelumnya menyatakan kepada Tempo bahwa impor tabung dilakukan sebagai spekulasi. Apalagi harga baja di Cina tahun depan diprediksi melonjak 13 persen. Ia juga mengaku tak ada andil dari Pertamina atau pabrikan tabung gas dalam proses impor.
Ketua Umum Asosiasi Industri Tabung Gas Tjiptadi menemukan kejanggalan pada tabung impor. Tabung itu tak dilengkapi kode perusahaan yang biasanya tertempel di badan tabung yang menunjukkan pemesan tabung impor. Pada tabung hanya tertera tulisan, "Diproduksi untuk pertamina LPG, Wc 7,3 ltr, TW 5,00 kg... TP31 kg/cm2, o prod 09-2007".
Menurut Tjiptadi, mestinya setelah tulisan "diproduksi untuk pertamina LPG" terdapat kode perusahaan dan nomor tabung. "Apabila disertai kode perusahaan, dapat dengan jelas diketahui siapa pemesan tabung gas impor ini," katanya di Jakarta kemarin.
Ia menjelaskan penempelan kode perusahaan bisa dilakukan oleh produsen tabung di pabrikan Indonesia. Jika memang produsen nasional yang memesan tabung itu, "Itu cara yang cerdik."
Tjiptadi menduga satu dari 12 produsen pemenang tender pengadaan tabung memesan kepada importir untuk memenuhi target kontrak dengan Pertamina. Dugaan lain, Pertamina yang memesan.
Soal harga tabung dari Cina tersebut, kata dia, sekitar US$ 6,1 per unit dengan bea masuk 15 persen. Bila dikonversi dalam rupiah, harganya plus bea masuk menjadi sekitar Rp 70 ribu. Adapun harga produksi di dalam negeri Rp 75 ribu tanpa valve.
"Harganya tak jauh dari produksi dalam negeri."
Thursday, July 28, 2016
PERAMPOKAN ATM BCA
Selasa, 17 Mei 2011 - 15:45 wib
Spesialis
Pembobol ATM BCA Diringkus
Ilustrasi ATM BCA
(Foto: Dok Okezone)
JAKARTA - Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya
menangkap dua orang mantan karyawan vendor pengisian uang PT Armarindo, Agus
Santoso, dan Aditya Bawono. Keduanya merupakan spesialis pelaku pembobolan ATM
BCA di Jakarta dan Solo.
Kepala Sub Dit Tanah dan Bangunan, Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan mengatakan, PT Armarindo merupakan perusahaan jasa pengisian uang ke ATM BCA, Agus dan Aditya pernah bekerja di perusahaan tersebut sebagai karyawan bagian pengisian uang.
Karena sudah mengetahui seluk beluk mesin ATM, pengetahuan tersebut ternyata dimanfaakan keduanya untuk melakukan tindak kriminal. Pelaku tidak hanya beraksi di Jakarta, beberapa ATM yang pernah dibobol di antaranya berada di Solo.
"Modusnya pelaku mengambil uang seperti biasa namun pada saat uang keluar, mesin ATM dimatikan dengan cara merusak bagian cashing agar tombol power tersentuh," tegas Herry kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (17/5/2011).
Keduanya ditangkap di Perumahan Asabri Magetan, Jawa Timur. Herry mengatakan awalnya polisi mendapatkan laporan bahwa pelaku pembobolan ATM yang terjadi di Cilandak Town Square sedang berada di daerah Perumahan Asabri, kemudian polisi menelusuri kabar tersebut. Pada 15 Mei 2011, sekira pukul 10.00 WIB polisi berhasil menangkap Agus Santoso.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Agus mengakui pernah melakukan pembobolan ATM BCA Mangga Dua Mall, ATM BCA Stasiun Gambir bersama Aditya dan Imam Suadji. Imam saat ini ditetapkan sebagai DPO. Selanjutnya pada 15 Mei 2011 sekira pukul 15.30 WIB polisi menagkap Aditya di Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
"Dari hasil pemeriksaan tersangka pernah melakukan kejahatan sebanyak lima kali, masing-masing didaerah ATM BCA Mangga Dua Mall, ATM BCA Carrefour Pabelan, ATM BCA Stasiun Gambir, ATM BCA Villa Mas Melati, ATM BCA Stasiun Banyumanik," terang Herry.
Berdasarkan laporan PT Bank Central Asia didapati kerugian sebesar Rp 57 juta. Herry menambahkan tertangkapnya pelaku tidak lepas dari peran kamera CCTV yang terpasang diatas mesin ATM, aksi kejahatan Agus yang saat itu memakai topi terekam kamera CCTV ATM BCA Stasiun Gambir. "Pada saat melakukan pembobolan dia memakai topi yang sama dengan yang ada dalam barang bukti," terangnya.
Saat ini keduanya telah meringkuk di tahanan Polda Metro Jaya guna penyelidikan lebih lanjut. Keduanya dikenakan pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.
Kepala Sub Dit Tanah dan Bangunan, Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan mengatakan, PT Armarindo merupakan perusahaan jasa pengisian uang ke ATM BCA, Agus dan Aditya pernah bekerja di perusahaan tersebut sebagai karyawan bagian pengisian uang.
Karena sudah mengetahui seluk beluk mesin ATM, pengetahuan tersebut ternyata dimanfaakan keduanya untuk melakukan tindak kriminal. Pelaku tidak hanya beraksi di Jakarta, beberapa ATM yang pernah dibobol di antaranya berada di Solo.
"Modusnya pelaku mengambil uang seperti biasa namun pada saat uang keluar, mesin ATM dimatikan dengan cara merusak bagian cashing agar tombol power tersentuh," tegas Herry kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (17/5/2011).
Keduanya ditangkap di Perumahan Asabri Magetan, Jawa Timur. Herry mengatakan awalnya polisi mendapatkan laporan bahwa pelaku pembobolan ATM yang terjadi di Cilandak Town Square sedang berada di daerah Perumahan Asabri, kemudian polisi menelusuri kabar tersebut. Pada 15 Mei 2011, sekira pukul 10.00 WIB polisi berhasil menangkap Agus Santoso.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Agus mengakui pernah melakukan pembobolan ATM BCA Mangga Dua Mall, ATM BCA Stasiun Gambir bersama Aditya dan Imam Suadji. Imam saat ini ditetapkan sebagai DPO. Selanjutnya pada 15 Mei 2011 sekira pukul 15.30 WIB polisi menagkap Aditya di Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
"Dari hasil pemeriksaan tersangka pernah melakukan kejahatan sebanyak lima kali, masing-masing didaerah ATM BCA Mangga Dua Mall, ATM BCA Carrefour Pabelan, ATM BCA Stasiun Gambir, ATM BCA Villa Mas Melati, ATM BCA Stasiun Banyumanik," terang Herry.
Berdasarkan laporan PT Bank Central Asia didapati kerugian sebesar Rp 57 juta. Herry menambahkan tertangkapnya pelaku tidak lepas dari peran kamera CCTV yang terpasang diatas mesin ATM, aksi kejahatan Agus yang saat itu memakai topi terekam kamera CCTV ATM BCA Stasiun Gambir. "Pada saat melakukan pembobolan dia memakai topi yang sama dengan yang ada dalam barang bukti," terangnya.
Saat ini keduanya telah meringkuk di tahanan Polda Metro Jaya guna penyelidikan lebih lanjut. Keduanya dikenakan pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.
Korupsi E-ktp
Kasus E-KTP, KPK Periksa Bos PT Quadra Solution
Jumat, 9 Mei 2014 | 16:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com
- Komisi Pemberantasan Korupsi
memeriksa Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo terkait
kasus dugaan korupsi paket pengadaan paket penerapan kartu tanda penduduk
elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri. Anang diperiksa sebagai saksi
bagi Sugiharto yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
"Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka
S (Sugiharto)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa
Nugraha di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/5/2014).
Selain Anang, KPK juga memeriksa dua saksi
lain terkait kasus tersebut. Mereka adalah karyawan PT Quadra Solution, Willy
Nusantara Najoan, dan Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal
Kependudukan Wisny Wibowo Siswojo.
Tim penyidik KPK pernah menggeledah kantor PT
Quadra Solution di lantai VII Menara Duta, Jalan HR Rasuna Said, Kav B-9,
Jakarta Selatan, Selasa (22/4/2014). Perusahaan tersebut diduga menjadi salah
satu perusahaan dalam konsorsium pelaksana proyek e-KTP yang nilai proyeknya
mencapai Rp 6 triliun.
Dalam kasus ini, KPK menetapkan Direktur
Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan
dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Sugiharto sebagai tersangka. Selaku
pejabat pembuat komitmen (PPK), Sugiharto diduga melakukan perbuatan melawan
hukum dan atau penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara
terkait pengadaan proyek tersebut. Menurut perhitungan sementara KPK, nilai
kerugian negara dalam kasus ini sekitar Rp 1,12 triliun.
BAHAYA LATEN
Generasi
PKI Sudah Menyusup ke Lembaga Negara
http://netralitas.com/nasional/read/1710/generasi-pki-sudah-menyusup-ke-lembaga-negara
ADA tulisan menarik tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tulisan yang
mengupas soal bangkitnya kembali PKI melalui generasi mudanya. Kini, generasi
PKI itu sudah masuk (infiltrasi) ke sejumlah lembaga negara, dan mereka menjadi
orang terkenal (publik figure).
Tulisan tersebut dimuat dalam status Facebook dengan nama pemilik akun Alfian Tanjung. Di akhir tulisan itu, tercantum nama penulis sebagai Analis Intelijen Dakwah dan Pengamat PKI.
Dalam tulisannya, Alfian menanggapi digelarnya acara “Belok Kiri Fest pada Sabtu (27/2) malam lalu di Lembaga Bantuan Hukum, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Sebelumnya, panitia akan menggelar acara tersebut di Taman Ismail Marzuki, namun diprotes oleh sejumlah ormas dan LSM, karena dicurigai sebagai gerakan baru kebangkitan PKI. Pihak Polda Metro Jaya pun akhirnya melarang mereka melakukan kegiatannya.
Pada tulisan pertama, Alfian mengatakan acara Belok Kiri Festival itu adalah perhelatan gerombolan PKI. Redaksi tulisan asli Alfian dalam status Facebooknya adalah seperti ini;
Belok Kiri Fesival yang dirancang dari tanggal 27 Februari - 6 Maret 2016 merupakan perhelatan Gerombolan PKI yang semakin percaya diri dan berani. Mereka mulai menebar angin dan pada saatnya akan menuai badai.
Sejak peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-70 dan sidang dagelan IPT di Amsterdam Belanda yang dihadiri oleh dua pengkhianat bangsa yakni Nur Kant dan To Mu Lu (#maaf nama orang disensor redaksi).
PKI sudah kadaluarsa, Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa, sangat tidak butuh dengan idiologi itu. Antara memenuhi perintah sang majikan dan dendam lama dari nenek moyang mereka. Kaum PKI telah menunjukkan hasrat syahwat (sensor) Atheisnya.
Bagaimana sikap kita ?
Pilihannya cuma satu, lakukan deteksi dini dan amputasi dini. Cukup sudah peristiwa berdarah 1948 dan kekejaman PKI 1965.
Dalam status lainnya, Alfian mengungkap sejarah kekejaman komunis terhadap orang lain yang berbeda faham. Alfian mengingatkan kembali kekejaman PKI.
SEJAK Revolusi Bolsevik pada tahun 1917 dan Revolusi Kebudayaan 1949 hingga 1990, dua sayap komunisme “pemakan manusia”, tercatat telah membunuh lebih dari 120 juta manusia. Pembunuhan dilakukan dengan cara yang sangat keji, kejam, sadis, dan di luar akal sehat.
Sampai hari ini, masih tersisa rezim sadis komunisme, yakni di Cina, ada lebih dari 70 juta Pemuda Pasukan Merah. Sekitar 10 juta di antaranya dikirim ke Indonesia secara bertahap sampai tahun 2020.
Selain China, Korea Utara juga merupakan basis komunis, di bawah komando Kim Dae yung II. Selanjutnya adalah Kuba. Kini fase komunis di Kuba melanjutkan misi Fidel Castro di Amerika Latin, dan beberapa negara yang mulai bergeliat menjadi negara komunis.
Di Indonesia, kaum komunis dengan rumah aslinya PKI, sedang berpesta pora. Karena, sejak 1998, Operasi Kuda Troya yang mereka lancarkan mulai membuahkan hasil. Dari Istana Negara, Kantor Legislatif, Eksekuif, Yudikatif, aparat, teknokrat, pengusaha, tokoh agama (kambuhan), artis, dan berbagai peran-peran publik lainnya, telah banyak diisi oleh kader PKI generasi baru.
Dalam kurun 2004-2014, Partai Komunis Cina (PKC) telah melatih 13 angkatan kader PKI generasi ketiga. Terutama sejak rezim demokrasi komunis berkuasa pada Oktober 2014. Sejak tahun 2015, rezim komunis mendatangkan para pengkader atau instruktur PKC ke seluruh provinsi (di China dan Indonesia), untuk mengkader generasi ketiga komunis.
Dalam wajah lain, kader PKI tua, seperti Im Sar, Beg Sas, Ibr Ai, Car Bu, dan kader tua lainnya, ditopang oleh kader PKI K-10 yang dipimpin oleh Wahyu Setiaji dan Teguh Karyadi. Mereka berdualah yang menggawangi pembentukan sel-sel PKI secara nasional.
Sementara Partopa Pangaribuan, membentuk SOBSI, Pemuda Rakyat, Gerwani, LEKRA, BTI dan mantel PKI dalam format Reinkarnasi, sebagai persiapan Deklarasi PKI. Sedangkan generasi pelanjutnya, seperti Di In, Rib Tji, Bu Suj dkk-nya, kini sedang senyum manis di DPR RI, di bawah Payung PDI-Perjuangan.
Selain tulisan Alfian tersebut, acara Belok Kiri Fest yang digelar di kantor LBH itu diabadikan dalam video berdurasi 9,35 menit di Youtube. Dalam video itu, pembawa acara meneriakkan yel-yel kebangkitan Belok Kiri Fest dilanjutkan dengan nyanyian lagu Indonesia Raya versi mereka.
Melihat cara mereka menyanyi, jelas berbeda dengan cara menyanyi masyarakat Indonesia pada umumnya. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan itu sambil berteriak-teriak dan berjingkrak-jingkrak.
NUMONI
www.inpactap.com/conf2016_thailand/info/normasit.html
Ms Norma Sit
Founder & CEO at Numoni (pronounced as new
money)
Chairman Maxbank Philippines
http://www.numoni.com/about-us/
Chairman Maxbank Philippines
http://www.numoni.com/about-us/
Norma
Sit is a Digital Banker. She founded Numoni Pte Ltd in 2012, a Fintech
company headquartered in Singapore with operations in Singapore, Malaysia,
Philippines and Indonesia. She is a member of the Board of Numoni and she
is proud of the pedigree of her co-directors from whom she learns much as the
Board works closely together to bring Numoni forward into new paradigms of
Digital Financial Services for ASEAN. In 2014, Numoni acquired a Thrift
Bank in the Philippines, where she currently chairs the Board and is
transforming the Bank into a Digital Bank. Numoni today holds e-wallet and remittance licenses in Indonesia,
Philippines, Malaysia and Singapore. Numoni serves the Underbanked of
ASEAN, an estimated market of about 400m people. KPMG has listed Numoni as one
of the 100 Most Innovative Fintechs Globally in their latest report.
Numoni has won multiple awards including the National IT Award in Singapore in
2014 for Most Innovative Product and Service, and the Singtel Best Innovation
Award under the Emerging Enterprise Award 2014 organised by BusinessTimes and
OCBC Bank.
In
the National Social Enterprise Committee formed under the aegis of the Ministry
of Community Youth and Sports. She represented 'Women in IT in the Economy' for
Singapore at APEC at St Petersburg in 2014, and is an invited keynote speaker
at many conferences and platforms, and of late, at platforms about Financial
Inclusion.
She
was awarded 'Great Women of Our Time' by the Singapore Women's Weekly for her
role in Arts and The Media, A Fellow of the Leadership Foundation of the
International Women Forum, and an inaugural recipient of 'Women Who Make A
Difference', an award by The International Alliance of Women. She
represents Singapore as appointed to the ASEAN Business Advisory Council and
chairs the ASEAN Business Advisory Council Businesswomen Working Group with a
focus to empower women economically in ASEAN. Her latest award to be
announced in April 2016 is '"Greatest Individual Contribution to Financial
Inclusion in Asia" as awarded in the SMART Awards Asia.
She
graduated top of her class with First Class Honours in Materials Engineering
from Monash University and was an AIDAB EMSS scholar at the Australia Graduate
School of Management at University of New South Wales, winning the AGSM Award
in Corporate Strategy. She has two children and a great dog.
Subscribe to:
Posts (Atom)

